| Memanfaatkan Kepintaran Orang Lain |
|
|
|
| Saturday, 04 June 2011 02:12 |
|
Banyak para wirausahawan senior yang sukses bukan karena mereka bersekolah tinggi, melainkan karena mereka dapat mengambil pengalaman sebagai guru. Mereka bangga akan "kampus hidup", dengan guru-guru "jalanan" dan kearifan menangkap "ilmu kehidupan". Sukses mereka, dibangun dengan realitas bisnis (dan kehidupan global) yang belum serumit zaman sekarang. Karena kerumitannya kian kompleks, wirausahawan memerlukan banyak input, termasuk dari pendidikan. Maka, cerita sukses tempo duku, diambil saripatinya, kearifan dan kegigihannya, bukan "semangat besar zonder pengetahuan". Wirausahawan pun untuk sukses, memerlukan pengetahuan dan keterampilan teknis. Bagaimana ia bisa "menjual" kalau tidak mendalami "dagangannya"? Bagaimana meyakinkan orang, kalau ia tidak mengerti apa yang harus ia tawarkan. Dalam menjalankan bisnis, kita tetap membutuhkan orang yang mampu dan berpengalaman untuk membantu kita. Tapi, kualifikasi akademik yang bagus, bahkan dari institusi yang paling bergengsi pun, bukanlah jaminan kesuksesan di setiap tingkatan dalam dunia korporat. Apapun perusahaannya Anda harus memiliki keterampilan teknis atau kemampuan mempekerjakan orang untuk itu. Wirausahawan sejati kebanyakan menikmati saat ia memimpin, menjadi pengelola usahanya sendiri. Ia memiliki orang-orang yang bekerja padanya. Karena urusan teknis memerlukan keahlian teknis, sebagai seorang bos, maka ia harus mendapatkan orang yang ahli atau yang menguasai keterampilan teknis tersebut untuk membantunya. Maka ia pekerjakan seseorang yang lebih pintar daripada dirinya. Begitu usaha Anda sukses selangkah demi selangkah mengisi jagad dunia usaha, bahkan Anda naik terus ke jenjang prestisius dalam bisnis yang Anda geluti, saat itu orang tidak lagi peduli Anda pintar atau tidak di sekolah. Bahkan kampus Anda saja, orang tidak lagi hiraukan. Anda dulu anak siapa, sesulit apa kehidupan Anda, juga tidak lagi menjadi perbincangan. Bicara soal memanfaatkan otak orang lain, David Ogilvy, tokoh paling inspiratif dalam dunia iklan, pernah memberi nasihat,"Pekerjakanlah orang yang lebih pintar dari Anda". Dengan mempekerjakan orang yang lebih pintar daripada Anda, maka Anda akan lebih cepat dan banyak belajar dari mereka. Banyak perusahaan besarpun memiliki orang dengan kualitas menonjol hampir di semua bidang. Oleh karena itu, pekerjakanlah orang lain, buat mereka bekerja untuk Anda, meskipun untuk itu, Anda harus mengeluarkan banyak uang. Satu hal lagi yang harus diingat, jangan bergantung kepada daftar riwayat hidup dalam mempekerjakan seseorang, sebab semua itu dapat dibuat dan ditata sedemikian menarik, padahal sesungguhnya itu tidak mencerminkan realita yang ada. Penilaian justru didasarkan pada naluri atau insting dasar yang Anda miliki. Carilah orang yang Anda yakin mampu mengendalikan bisnis, menunjukkan antusiasme, dan mampu memperlakukan staf dengan baik. Selain itu pastikan bahwa Anda mempekerjakan orang yang tepat, pada tempat yang tepat dan waktu yang tepat. Anda harus bisa memiliki orang yang mempunyai komitmen untuk mengembangkan bakat. Bisnis berhasil karena konsep dasarnya bagus, juga naluri wirausahawan terhadap suatu momen. Wirausahawan harus mampu bersikap luwes. Kalau memproduksi bunga plastik tidak menguntungkan, dia bisa cepat berganti memproduksi rambut palsu, lalu mainan dan elektronik. Dengan begitu, perusahaannya bisa menemukan ceruk yang betul-betul menjadi awal yang baik untuk berkembang. Oleh: Valentino Dinsi, SE, MM, MBA
|
| Last Updated on Saturday, 04 June 2011 03:32 |
Pembayaran

Bank Mandiri
142-00-0482001-4
a/n Tubiyono QQ
Dinamika Unair.





